Monday, May 28, 2012
Sunday, May 27, 2012
Dedendangan Melayu
![]() |
| Dian HP dalam Dedendangan |
Mendengar kata Melayu, biasanya saya, mungkin juga kita, berasosiasi pada suatu negara tertentu. Bukan salah, tapi kurang tepat. Melayu adalah rumpun bangsa Asia Tenggara. Indonesia termasuk diantaranya. Maka khasanah musik Melayu mengalun mengikuti peradaban bangsa kita. Di Kalimantan Timur, Kutai tepatnya, dan beberapa daerah di Sumatera adalah daerah yang menumbuhkan dan melestarikan musik Melayu. Bagi saya sendiri mendengarkan musik Melayu bukan kebiasaan dan kesukaan saya. Kekhasan musik Melayu adalah cengkok-cengkok nada yang sangat sering dijumpai dan syairnya yang kebanyakan adalah pantun.
Dan malam kemarin di Salihara, Dian HP dan Ubiet berserta beberapa musisi lain menyuguhkan musik Melayu yang asyik dan menyegarkan. Dian HP membuat komposisi indah musik Melayu yang bersentuhan dengan modernitas. Dengan piano dan akordeonnya, ia memberi warna segar pada musik Melayu. Tabuhan gendang melayu dan suling adalah ciri khas musik Melayu, ditambah cello dan bass elektrik, musik Melayu kini naik kelas. Puisi-puisi karya Nirwan Dewanto dan Sitok Srengenge menjadi syair yang indah dan kaya makna dalam dedendangan semalam. Ubiet, penyanyi dan etnomusikolog membawakan dendangan musik Melayu dengan sempurna. Semua musisi tampil sederhana dengan gaya bermain musik yang lempeng namun memukau. Tak kalah asyik, Black Bird-nya The Beatles dibawakan dalam nuasa Melayu yang rancak dan sarat Indonesia. Begitulah apapun yang berasal dari luar budaya bangsa, seperti makanan dan juga musik mampu dihadirkan dalam khasanah budaya lokal. Dan kreativitas mampu menghadirkan kesegaran dalam hal-hal yang terlihat biasa saja.
Posted by niken at 7:11 PM 0 comments
Saturday, May 26, 2012
bandara
Bagi saya bandara memiliki kesan tersendiri. Seperti adegan pembuka di film Love Actually, bandara digambarkan sebagai tempat yang penuh cinta. Love is all around, begitu katanya. Perjumpaan di terminal kedatangan penuh dengan senyum, tawa dan tangis haru. Mulai keluarga, sahabat, teman lama, kekasih, semua menunjukkan ekspresi senangnya. Di bandara juga, seringkali kita memiliki ikatan batin pada suatu tempat yang kita datangi. Rumah pertama bagi pengelana yang baru tiba. Mengalami sebagai penjemput, pengantar, dan yang dijemput/diantar membuat saya merasakan berbagai rasa. Perjumpaan dan perpisahan hanya persoalan waktu, mereka-mereka yang kita cintai tetap tinggal di hati di manapun kita berada. Demikianlah bandara menjadi tempat paling romantis bagi saya.
Posted by niken at 3:53 PM 0 comments
Labels: mind - feeling, perjalanan
Friday, May 18, 2012
Saturday, May 12, 2012
Indonesia yang terlalu religius
Indonesia ini terlalu religius, begitu katamu saat dalam perjalanan kita ke tempat baru yang begitu rapi, tertib dan teratur. Berbeda dengan tanah air yang kita diami, dimana sarana transportasi kurang memadai, pembangunan tidak merata dan kurang tepat, penataan kota yang semrawut. Kehebatan negeri kita cuma sampai membangun gedung-gedung bertingkat, jalan layang, mall-mall mewah, kemudian melupakan tata kota yang baik dan manusiawi. Maka timbullah persoalan lain yaitu kemacetan, banjir dan tindak kejahatan kriminal. Terlebih lagi Jakarta, kota yang kini menjadi sumber penghidupan saya, bukanlah tempat tinggal yang manusiawi. Dengan adanya permasalahan yang mestinya diselesaikan dan dicarikan jalan keluar, pemerintah malah meributkan dan mrnyalahkan hal lain. Seperti menyudutkan perempuan yang memakai rok mini sebagai penyebab tindakan pelecehan seksual, membesar-besarkan berita toilet mewah di gedung parlemen, bahkan ikut menghalangi kebebasan beribadah dan berkumpul. Pemerintah sibuk mengurusi moral rakyatnya. Disuguhi ceramah moral, rakyat pun menjadi seketika religius. Merasa sudah baik dan benar, tak jarang sekelompok orang menyerang sekelompok lain yang bersebrangan ataupun menghalangi keberagaman.
Dan memang benar katamu, karena terlalu sibuk urusuan religi, kami lupa bahwa ketertiban, keamanan dan kenyamanan kehidupan perkotaan adalah tanggung jawab bersama bukan merasa paling benar. Dari pada beramai-ramai membubarkan orang-orang yang berdikusi kenapa tidak membubarkan preman-preman yang nongkrong di terminal atau menertibkan angkot-angkot yang ngetem sembarangan? Lebih make sense kan?!
Posted by niken at 4:25 PM 0 comments



